Apa Itu Aksara Jawa? | Sejarah, Media, Penggunaan dan Bentuk

Apa itu Aksara Jawa Aksara biasa disebutkan dengan mekanisme penulisan sebagai satu simbol visual yang umumnya ada pada kertas atau media lain. Umumnya aksara dipakai untuk mengutarakan ekspresi pada suatu bahasa.

Indonesia mempunyai 12 aksara wilayah yang mana semua sebagai sisi dari kekayaan kesusastraan budaya Indonesia.

Adapun aksara wilayah yang Indonesia punyai salah satunya yakni aksara jawa Sunda kuno, balik Oma Bugis karaoke Lampung Pak Toba Simalungun Mandailing dan yang paling akhir aksara rencong.

Aksara Jawa mempunyai nama lain Hanaccaraka, Carakan atau Dentawyanjana. Aksara jawa sendiri sebagai salah satunya dari 12 aksara wilayah yang dipunyai oleh Indonesia yang mana aksara ini berkembang disekitaran Pulau Jawa.

Warga Jawa mengatakan bila aksara jawa sendiri sebagai turunan dari aksara brahmi yang dari India yang mana hal itu dikatakan lewat mediator aksara Kawi dan berkerabat dengan aksara Bali.

Aksara jawa sendiri mempunyai tipe mekanisme tulisan yang disebutkan abugida yang mana abugida ini mempunyai sekitaran 20 sampai 33 aksara dasar. Sejarah tradisionil aksara ini dicatat dari kiri ke kanan dan tanpa spasi antara kata tapi umumnya diselipin dengan satu kelompok pertanda baca yang karakternya dekorasi.

Sejarah Singkat

Sama seperti yang telah diterangkan di atas aksara jawa sendiri sebagai turunan dari aksara brahmi yang mana aksara jawa ini sebagai salah satunya dari 12 aksara yang berada di Indonesia.

Aksara jawa dikatakan lewat aksara kawi yang mana aksara-aksara itu berkembang jadi aksara Jawa. Untuk aksara Jawa modern mulai perlahan-lahan ada pada aksara kawi pada era ke 14-15 saat warga Jawa telah terima tuntunan agama Islam.

Baca Juga :   Apa Itu Aksara Sunda? | Ada Sunda Kuno dan Baku!

Dari era ke-15 sampai di awal era ke-20 aksara jawa sendiri mulai aktif dipakai sebagai tulisan setiap hari bagus untuk berbicara atau sebagai sastra Jawa asli. Dalam waktu itu cukup banyak wilayah terasing susah untuk berbicara keduanya hingga aksara ini berkembang dengan banyak memiliki macam dimulai dari gaya penulisan dan lain-lain. Umumnya aksara jawa dipakai pada cakupan wilayah Kraton.

Sastra Jawa tradisionil dicatat mayoritas cuma untuk dilantunkan dalam bentuk tembang hingga text sastra itu bukan hanya disaksikan atau Dipandang dari sisi isi dan formasinya tapi juga disaksikan dari cara karakter dan penyanyian si pembaca.

Selanjutnya pada era ke-18 atau 19 adat catat Jawa telah memercayakan penulisan dan Pengaturan ulangi hingga menyebabkan an-naba nya kan dokumen fisik yang sekarang sisa adalah salinan semata-mata. Meski begitu dapat dijelajahi sampai purwarupa yang beberapa era lebih tua.

Media Aksara Jawa

Sebelumnya aksara jawa umumnya diketemukan dalam bentuk Prasasti batu atau lurus logam. Umumnya kerap diketemukan pada media Lontar atau daun Palem yang sudah diproses hingga dapat dicatat.

Selanjutnya pada era ke-15 semenjak penebaran agama Islam adat tulisan itu telah beralih menjadi penulisan kertas atau pola buku. Ada kertas produksi lokal yang disebutkan daluang yang dibuat dari kulit pohon saeh. Dah pulang sendiri biasanya dipakai untuk dicatat di Keraton atau Pesantren Jawa pada era ke-16 dan 17.

Selanjutnya sekitaran era ke-18 atau tahun 1825 timbulnya tehnologi bikin hingga materi beraksara Jawa dapat dibanyakin secara masalh hingga kertas impor telah wajar dipakai pada warga Jawa pra-kemerdekaan. Misalnya seperti beberapa surat, majalah koran, buku sampai papan iklan dan uang kertas.

Baca Juga :   Apa Itu Hanacaraka? Dari Sini Nama Tersebut Berasal

Penggunaan

Pada era ke-15 warga Jawa aktif memakai aksara jawa ini yang mana saat masuk era ke-20 warga Jawa mulai perlahan-lahan menukar bahasa mereka jadi bahasa Latin.
Antiknya di wilayah Jawa aksara jawa ini diberikan dalam pengajaran sekolah dimulai dari dari SD sampai SMA.

Bentuk Aksara

  1. Aksara wyanjana (ꦲꦏ꧀ꦱꦫꦮꦾꦚ꧀ꦗꦤ) yang disebut aksara konsonan yang mempunyai 33 bunyi konsonan (Sanskerta dan Kawi)
  2. Aksara swara (ꦲꦏ꧀ꦱꦫꦱ꧀ꦮꦫ) yang disebut aksara yang tidak mempunyai konsonan awalan yang mempunyai 14 vocal
  3. Aksara rékan (ꦲꦏ꧀ꦱꦫꦫꦺꦏꦤ꧀) untuk menulis bunyi asing
  4. Diakritik (sandhangan ꦱꦤ꧀ꦝꦔꦤ꧀) untuk mengganti vocal inheren jadi vocal lainnya
  5. Sandhangan panyigeging wanda (ꦱꦤ꧀ꦝꦁꦔꦤ꧀ꦥꦚꦶꦒꦼꦒꦶꦁꦮꦤ꧀ꦢ) untuk tutup suku kata dengan konsonan
  6. Sandhangan wyanjana (ꦱꦤ꧀ꦝꦁꦔꦤ꧀ꦮꦾꦚ꧀ꦗꦤ) untuk tuliskan semivokal pada sebuah suku kata

Akhir Kata

Nah gaess itulah pembahasan kita mengenai Apa itu aksara Jawa. Mudah-mudahan apa yang kami berikan bisa menolong dan berguna untuk sahabat sekaligus.

Jadi Apakah sobat sudah mengetahui apa itu aksara Jawa?

Kritikan dan anjuran yang menolong benar-benar kami butuhkan untuk kesempurnaan artikel dan web kami.
Terima kasih, mudah-mudahan menolong.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.