Mengenali Teknologi Teleskop Luar Angkasa James Webb

Teleskop Luar Angkasa James Webb NASA yang bermitra dengan European Space Agency (ESA) dan Canadian Space Agency (CSA). memperlihatkan pertama kali kumpulan gambar luar angkasa pada Selasa, 12 Juli 2022.

Kumpulan gambar itu memperlihatkan kemampuan penuh dari teleskop itu. “Hari ini kami menghadirkan pandangan baru yang inovatif tentang kosmos kepada umat manusia dari Teleskop Luar Angkasa James Webb. Pemandangan yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya,” kata Administrator NASA Bill Nelson dalam situs web NASA.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) saat ini telah sepenuhnya terbuka melakukan misi pengamatan luar angkasa. Itu setelah mereka merilis Teleskop Luar Angkasa James Webb pada Desember 2021 lalu.

Apa itu Teleskop Luar Angkasa James Webb?

Mengutip laman The European Space Agency, teleskop luar angkasa James Webb merupakan observatorium sains utama dunia setelah Hubble. Kemunculannyaa dirancang untuk menjawab pertanyaan seputar alam semesta dan penemuan terobosan di semua bidang astronomi. Webb akan melihat lebih jauh asal-usul alam semesta dan kehidupannya. Mulai dari pembentukan bintang dan planet hingga kelahiran galaksi pertama di alam semesta ini.

Adapun Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland, mengelola Webb untuk mengawasi pekerjaan misi yang dilakukan oleh Institut Sains Teleskop Luar Angkasa, Northrop Grumman, dan mitra misi lainnya.

Selain Goddard, beberapa pusat NASA berkontribusi terhadap proyek itu, termasuk Johnson Space Center di Houston, Laboratorium Propulsi Jet (JPL) di California Selatan, Pusat Penerbangan Luar Angkasa Marshall di Huntsville, Alabama, Pusat Penelitian Ames di Lembah Silikon California, dan lain-lain.

Teleskop James Webb telah memberikan gambar inframerah terdalam dan paling tajam dari alam semesta yang jauh saat ini. Tangkapan Webb pertama adalah gugus galaksi SMACS 0723. Itu dipenuhi ribuan galaksi, termasuk objek paling redup yang pernah diamati dalam inframerah.

Baca Juga :   Stasiun Luar Angkasa Jadi Rebutan Rusia dan NASA

Ingram Micro Distribusikan Teknologi Solusi Red Hat di Indonesia

PT Ingram Micro Indonesia mengumumkan penandatanganan perjanjian dengan Red Hat untuk penyediaan solusi open source untuk perusahaan di Indonesia pada Rabu, 13 Juli 2022. Ingram Micro selama ini memiliki fokus di bidang Digital, Workforce, IT dan Cyber Security Transformation.

Berdasarkan perjanjian yang dibangun, PT Ingram Micro Indonesia akan mendistribusikan rangkaian lengkap solusi Red Hat, yang meliputi infrastruktur, integrasi, cloud, pengembangan aplikasi, serta automatisasi & manajemen. Fokusnya pada rangkaian solusi Red Hat Enterprise Linux, Red Hat Ansible Automation Platform, dan Red Hat OpenShift di Indonesia.

Melalui kerja sama dan pembelajaran bersama anak usaha IBM itu, PT Ingram Micro Indonesia berkomitmen untuk menghadirkan teknologi inovatif dan solusi pelanggan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia. Managing Director PT Ingram Micro Indonesia, Mulia Dewi Karnadi, menyatakan kegembiraannya dapat menambahkan produk dan solusi yang dikembangkan Red Hat ke dalam jajaran solusi enterprise yang mereka tawarkan.

“Ini memungkinkan kami untuk menyediakan lebih banyak solusi end-to-end dengan nilai tambah yang lebih besar bagi para mitra dan pelanggan kami,” kata Dewi di Hotel Ayana Mid Hotel.

Ingram Micro memiliki pusat teknologi yang berlokasi di Singapura, yakni Asia Pacific Technology Experience Center (TEC). Perusahaan itu optimistis mampu menyediakan dukungan yang lebih besar kepada mitra kami dalam penjualan solusi di bidang pemberdayaan, sumber daya domain, dan penciptaan kebutuhan pasar.

“Saat ini TEC memiliki solusi Ansible dan OpenShift yang terintegrasi dan siap untuk didemonstrasikan,” kata Dewi sambil menambahkan, “Kami terbuka untuk kerja sama dengan mitra dan pelanggan akhir yang siap melangkah maju dalam koridor open source,”

Baca Juga :   China Luncurkan Modul Laboratorium Pertama di Luar Angkasa

Pada acara tersebut Red Hat memperlihatkan produknya, OpenShift. Teknologi solusi itu disebutkan telah digunakan oleh BCA, Bank BTPN, Pegadaian, Bank Mandiri, DJPb Treasury Indonesia dan BKKBN.

Vony Tjiu, Country Manager Red Hat Indonesia, menyatakan senang menyambut PT Ingram Micro ke dalam ekosistem mitra Red Hat di Indonesia. Menurutnya, perusahaan-perusahaan di Indonesia sedang bergerak dengan cepat dalam merespons berbagai permintaan baru dari para pelanggan, dan inovasi kini menjadi agenda yang sangat penting bagi para eksekutif.

“Red Hat berkomitmen menawarkan pilihan solusi enterprise open source yang lebih lengkap kepada berbagai perusahaan dan kunci untuk membangun itu semua adalah ekosistem mitra yang kuat,” katanya.

Bersama PT Ingram Micro, Red Hat bertujuan membantu pelanggan mengembangkan aplikasi-aplikasi berbasis teknologi open source yang memiliki performa tinggi, untuk mendukung transformasi digital. “Kami menantikan kolaborasi yang lebih erat lagi dengan Ingram karena mereka akan terus tumbuh bersama Red Hat,” jelas Vony.

Vony mengibaratkan Red Hat sebagai dapur terbuka yang memiliki bahan, tim service dan Ingram sebagai pemilik sekolah masak.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.