Rusia Beri Sanksi ke Perusahaan Teknologi AS, WhatsApp hingga Tinder

Pengadilan Rusia, memutuskan untuk menjatuhkan sanksi kepada perusahaan teknologi asal Amerika Serikat. Hal ini menyusul penolakan dari beberapa perusahaan, seperti WhatsApp, Snapchat, dan Tinder untuk menyimpan data pengguna secara lokal.

Pada pekan lalu, Rusia sudah menjatuhkan sanksi kepada Google yang dianggap lalai dalam menyingkirkan konten terkait invasi Rusia ke Ukraina. Bahkan, Rozkomnadzor menyebut Google enggan menghapus konten yang dianggap berisikan aksi terorisme dan ekstremis.

1. Perusahaan jejaring sosial disebut tidak bersedia menyimpan data lokal

Sesuai keputusan ini, maka ketiga perusahaan yang bergerak di media sosial tersebut diharuskan membayar denda. Tinder mendapatkan denda sebesar 2 juta ruble (Rp494,4 juta) dan Snapchat dikenai denda hingga 1 juta ruble (Rp237 juta) karena kelalaian dalam penyimpanan data pengguna.

Sementara itu, WhatsApp yang berada di bawah naungan Meta mendapatkan denda terbesar, yakni sebesar 18 juta ruble (Rp4,4 miliar). Besarnya denda yang diterima perusahaan asal negeri Paman Sam tersebut karena telah berulang kali melakukan pelanggaran, dilaporkan RT.

Keputusan ini didasarkan pada investigasi dari Pengadilan Distrik Tagansky Moskow untuk meluncurkan investigasi kepada WhatsApp, Spotify, Tinder, dan Snapchat sejak awal bulan ini. Hal ini untuk memastikan perekaman, sistematisasi, akumulasi, penyimpanan, klarifikasi, dan ekstraksi data pengguna di dalam teritori Federasi Rusia.

Dilaporkan Reuters, selain tiga perusahaan jejaring sosial tersebut, Rusia juga menjatuhkan sanksi kepada Hotels.com yang dimiliki oleh Expedia Group sebesar 1 juta ruble (Rp237 juta). Sedangkan Spotify yang sudah hengkang dari Rusia ikut mendapatkan denda 500 ribu ruble (Rp118,8 juta).

Sesuai keputusan ini, maka ketiga perusahaan yang bergerak di media sosial tersebut diharuskan membayar denda. Tinder mendapatkan denda sebesar 2 juta ruble (Rp494,4 juta) dan Snapchat dikenai denda hingga 1 juta ruble (Rp237 juta) karena kelalaian dalam penyimpanan data pengguna.

Sementara itu, WhatsApp yang berada di bawah naungan Meta mendapatkan denda terbesar, yakni sebesar 18 juta ruble (Rp4,4 miliar). Besarnya denda yang diterima perusahaan asal negeri Paman Sam tersebut karena telah berulang kali melakukan pelanggaran, dilaporkan RT.

Keputusan ini didasarkan pada investigasi dari Pengadilan Distrik Tagansky Moskow untuk meluncurkan investigasi kepada WhatsApp, Spotify, Tinder, dan Snapchat sejak awal bulan ini. Hal ini untuk memastikan perekaman, sistematisasi, akumulasi, penyimpanan, klarifikasi, dan ekstraksi data pengguna di dalam teritori Federasi Rusia.

Dilaporkan Reuters, selain tiga perusahaan jejaring sosial tersebut, Rusia juga menjatuhkan sanksi kepada Hotels.com yang dimiliki oleh Expedia Group sebesar 1 juta ruble (Rp237 juta). Sedangkan Spotify yang sudah hengkang dari Rusia ikut mendapatkan denda 500 ribu ruble (Rp118,8 juta).

2. Google kembali didenda hingga Rp507,9 miliar akibat dianggap memonopoli pasar

Rozkomnadzor juga sudah kembali menjatuhkan sanksi kepada perusahaan Alphabet yang menjadi induk Google. Denda tersebut bernilai fantastis hingga mencapai 2 miliar ruble (Rp507,9 miliar) karena dianggap melakukan pelanggaran monopoli pasar.

Berdasarkan keterangan dari Federal Antimonopoly Service (FAS), perusahaan tersebut sudah memanfaatkan dominasinya di pasar lewat platform video hosting YouTube. Namun, pihak FAS tidak memberikan keterangan secara detil maksud dari pelanggaran yang dilakukan Google.

Atas hal ini, Google diharuskan membayar denda dalam tenggat waktu dua bulan sebelum adanya pemaksaan. Sebelumnya, Google juga sudah mendapatkan sanksi secara bertubi-tubi dalam beberapa bulan terakhir. Pekan lalu, Google diharuskan membayar 21,2 miliar ruble (Rp5,3 triliun) kepada Rusia atas kelalaian dalam menghapus konten yang dilarang.

3. Sejumlah perusahaan asing bersedia menyimpan data pengguna di Rusia

Roskomnadzor melaporkan bahwa sebanyak perwakilan perusahaan asing di negaranya sudah bersedia melokalisasi penyimpanan data warga Rusia. Perusahaan itu meliputi, Apple, Microsoft, Samsung, Paypal, Booking.com, dan LG.

Sementara, perusahaan yang enggan melokalisasi data penggunanya, seperti LinkedIn akhirnya harus diblokir dari Rusia. Keputusan itu menjadi salah satu langkah Rusia untuk meningkatkan kampanye pengetatan kepada perusahaan teknologi asing yang masih beroperasi di negaranya.

Pada Maret lalu, Facebook dan Instagram sudah dilarang beroperasi di Rusia setelah dianggap sebagai organisasi ekstremis. Keputusan ini terkait penolakan penghapusan konten terkait konflik di Ukraina yang dianggap tidak sesuai oleh pihak Moskow.

Di sisi lain, Apple juga sudah menyetop penjualan barangnya pada Maret lalu dan memblokir aplikasi perusahaan media milik negara RT dari AppStore. Sedangkan, layanan penyimpanan milik Amazon, AWS juga sudah berhenti menerima pelanggan dari Rusia, dilaporkan dari Business Insider.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.