Ameca, Robot Humanoid Ini Bisa Tunjukkan Ekspresi Sedih Hingga Takut

Arah pengembangan robot yang makin progresif tampak dalam cuplikan kreasi terbaru dari perusahaan robotika Engineered Arts. Perusahaan asal Inggris ini, memperkenalkan robot berkulit abu-abu bernama Ameca.

Video tentang Ameca sempat viral Desember tahun lalu, dengan klip yang menunjukkan android dengan batang logam terbuka dan ekspresi wajah realistis yang menakutkan. Ameca pun tampak dengan leluasa berinteraksi dengan para peneliti.

Dalam satu video, Ameca mengerutkan kening ketika seorang karyawan di luar layar mengulurkan tangan untuk menyentuh hidungnya. Ameca, dalam deru motor listrik, juga dengan mulus meraih tangan karyawan itu agar jari karyawan tidak lagi menyentuh hidungnya.

Konversasi di dunia maya pun bergulir. Video tersebut, menunjukkan, robot ternyata kini sudah mampu menetapkan batas antara dirinya dan manusia. Sebuah dorongan yang ironisnya, juga sangat manusiawi.

Emosi-emosi, seperti rasa ingin tahu, ketakutan, dan kegembiraan setelah melihat interaksi Ameca dengan seorang karyawan ini, kemudian menjadi salah satu karakter utama dari para robot yang diproduksi oleh Engineered Arts.

Di dirikan sejak 2005, perusahaan kini telah mampu meng hasilkan uang dengan menjual robotnya untuk tujuan hiburan dan pendidikan. Robot-robot dari Engineered Arts, biasanya digunakan oleh para akademisi untuk penelitian.

Selain itu, strategi pemasaran sebuah perusahaan, juga kerap memanfaatkan robot untuk berbagai aksi publisitas. Mereka pun menempatkan robot-robot di museum, bandara, serta mal untuk menyambut pengunjung. “Di mana pun Anda memiliki banyak orang untuk berinteraksi, kini robot mulai bisa ditemui di sana,” kata CEO Engineered Arts Will Jackson, dilansir dari The Verge.

Dalam waktu dekat, Engineered Arts ingin melengkapi robotnya dengan perangkat lunak chat bot yang lebih canggih. Upgrade ini, memungkinkan para robot besutannya, merespons pertanyaan dengan lancar tanpa bimbingan manusia.

Jackson pun me nga takan, langkah se lan jutnya untuk Ameca adalah versi berjalan. Dia menunjukkan sepasang prototipe kaki logam, menekuk dan melenturkan lutut.

Jackson mengungkapkan, karya tersebut justru pada akhirnya mengingatkan dia pada keindahan alam. Semakin dia mencoba untuk menciptakan kembali tubuh manusia, semakin besar rasa “kagum dan heran” yang ia miliki. Hal ini juga sekaligus meningkatkan kesadarannya tentang seberapa jauh kecerdikan manusia harus bersaing dengan teknologi di masa depan.

Robot Ini Bisa Dilatih Menjadi Chef di Dapur


Di tengah derasnya arus digitalisasi, percakapan tentang robot yang dibenami teknologi kecerdasan buatan (AI) selalu memiliki daya tarik tersendiri. Euforia perkem bangan robot yang diciptakan dengan berbagai tujuan, selalu diba yangi oleh kekhawatiran akan masa depan persaingan dengan manusia.

Hal ini juga yang mewarnai dinamika pengembangan teknologi robot di dunia kuliner. Dikutip dari Inverse, Rabu (18/5), seorang profesor di Departemen Teknik Cambridge, Inggris, Fumiya Iida, bersama timnya, tengah mengembangkan robot yang fungsi difokuskan pada berbagai pekerjaan dapur.

Proyek yang digagas Iida ini, terasa makin menarik karena meski robot tak memiliki indera perasa. Namun, mereka ternyata bisa dikembangkan untuk mempersiapkan berbagai resep masakan.

Selain itu, mereka juga bisa membalik burger, merakit pizza, dan membuat sup. “Orang-orang sudah makan banyak makanan yang diproduksi mesin di mana-mana, tetapi masih sulit untuk bersaing dengan koki manusia yang baik,” jelas Iida.

Iida dan tim pun berpikir untuk mengajari robot menilai rasa asin dan tekstur hidangan pada titik yang ber beda, dalam sebuah proses memasak. Langkah ini, menjadi bagian dari upaya untuk membangun robot yang dapat menyiapkan makanan secara komersial. Kemudian, bukan tak mungkin pula akan mengungguli juru masak andal di masa depan.

Kolaborator Iida, Grzegorz Sochacki, mengatakan bahwa dia percaya bahwa koki robot dapat mulai menggantikan pekerja makanan cepat saji atau bekerja di dapur dalam dekade berikutnya.

“Publikasi terbaru kami menunjukkan betapa rumitnya persepsi rasa manusia, dan koki robot kami masih jauh tertinggal,” kata Iida.

 

 

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.