Plant-Based Food Mulai Marak, Kedelai dan Gandum Diolah Menyerupai Daging

Makanan berbasis nabati (plant-based) tampaknya sudah mulai menggoda selera makan masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya restoran yang menyediakan makanan dan minuman berbasis nabati.

Menurut Culinary Innovation Chef Ikhsan Farizki, masakan dengan berbahan plant-based saat ini sudah banyak ditawarkan. Kehadirannya bisa diterima mengingat tekstur dan rasanya sama dengan daging.

“Bahan utama plant-based itu kedelai dan gandum,” ujar jelas chef Ikhsan.

Salah satu makanan yang bisa dibuat dari bahan dasar nabati adalah burger. Isian burger umumnya adalah daging sapi, daging ayam, ataupun ikan. Produk hewani tersebut bisa diganti dengan pati nabati.

Chef Ikhsan menjelaskan pati nabati ini terbuat perpaduan kedelai dipadankan dengan gandum yang diesktrak. Teksturnya mirip dengan kulit tahu.

Pati nabati itu kemudian ditambahkan dengan bahan lainnya yang mendukung. Penggunaan bahan baku tambahan ini berbeda-beda, tergantung makanan yang ingin dihasilkan, misalnya ala daging sapi, burger daging cincang, atau rendang.

Bahan tersebut kemudian dicampurkan menjadi satu dan ditambahkan dengan air lalu dimasukkan ke dalam chopper. Bahan pati nabatinya tidak dibuat halus, namun dibuat agak sedikit kasar agar mirip dengan tekstur daging.

Bahan isian burger tersebut kemudian dicetak dan dibekukan didalam kulkas. Ketika hendak disajikan, pati nabati tinggal dipanggang seperti pati burger daging sapi.

Pati ini kemudian dimasukkan kedalam roti nabati dan ditambahkan dengan keju nabati yang terbuat dari kedelai, bukan dari produk turunan susu. Selain itu, tak lupa ditambahkan aneka jenis sayuran sesuai selera.

Rasa burger nabati ini mirip dengan burger daging sapi. Teksturnya pun sama dan ketika memakannya, Anda mungkin tidak menyadari jika itu adalah pati nabati.

Selain burger, rendang dan dendeng juga bisa dibuat dari bahan dasar nabati dari kedelai dan gandum. Bumbu masaknya sama dengan rendang ataupun dendeng sapi.

Bukan hanya itu, bahan dasar nabati ini juga bisa menjadi bahan dasar pembuatan sata lilit. Tidak melulu harus menggunakan ikan, satai lilit bisa terbuat dari kedelai. Rasa sate memang mirip dengan satai ikan, namun tidak bisa dipungkiri, rasa kedelainya masih terasa.

Untuk dessert, bahan dasar nabati bisa juga dijadikan panacota. Bahan yang diganti adalah susunya. Bukan menggunakan susu sapi, tapi menggunakan susu oat.

Untuk membuatnya, susu oat tinggal dicampur dengan bahan pembuatan panacota yang berbasis nabati pula kemudian diberi topping puree stroberi. Rasanya manis dan menyegarkan.

Chef Ikhsan menjelaskan proses masak menggunakan bahan dasar daging maupun plant-based, pada dasarnya sama. Jika bahan nabati intinya sudah dibuat, bisa dimasak apapun bisa dengan minyak dan mentega.

Selain itu, waktu memasaknya juga relatif sama. Misalnya, dalam pembuatan rendang, burger, ataupun makanan lainnya.

“Tujuannya agar rasa makanan yang berasal dari bumbu bisa meresap dengan baik,” ujarnya.

Perbedaannya, jika memasak dengan daging, tingkat kematangannya bisa diatur. Misalnya, untuk burger atau steak, bisa disesuaikan sesuai selera, entah medium, medium well, ataupun well done. Sementara plant-based tidak bisa diatur, tingkat kematangannya semua harus well done.

“Karena ada senyawa-senyawa didalamnya yang akan bereaksi atau mengeluarkan rasa saat mencapai suhu tertentu,” jelas chef Ikhsan.

Biasanya, rasa tersebut terbit saat suhu memasak di atas 75 derajat Celsius. Menurut chef Ikhsan, jika masak kurang matang, pati nabati ini rasanya terlalu kedelai atau terlalu tempe.

“Karena senyawa-senyawanya belum bereaksi dengan bahan baku lainnya karena suhu belum panas, karena belum matang.”

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.