Peranan Denmark dalam Rencana Energi Angin Eropa

Eropa membutuhkan pelabuhan untuk memenuhi ambisinya dalam meningkatkan produksi energi angin lepas pantai, dan Esbjerg adalah salah satu yang terbesar. Kota di Denmark ini jadi model produksi energi yang terencana. Oliver Ristau melaporkannya untuk DW.

Menjadi hari yang tak terlupakan bagi Jesper Frost Rasmussen, hari empat Kepala Negara Eropa dan Presiden Komisi Uni Eropa datang ke Esbjerg, Denmark, untuk menandatangani proposal strategi ambisius tentang perluasan energi angin lepas pantai.

Bersama-sama, negara-negara tersebut ingin meningkatkan produksi energi angin di Laut Utara menjadi 65 gigawatt (GW) pada tahun 2030 dan bertambah menjadi 150 GW pada tahun 2050. Salinan berbingkai Deklarasi Esbjerg yang ditandatangani oleh Kanselir Jerman Olaf Scholz, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, dan Perdana Menteri Belgia dan Belanda, Alexander de Croo dan Marc Rutte, telah digantung di dinding kantor Rasmussen. Bilah rotor di dermaga

Rasmussen merupakan Wali Kota Esbjerg. Dia tahu bahwa kotanya memiliki peran penting dalam perencanaan tersebut. Esbjerg adalah salah satu dari sedikit pelabuhan Eropa yang menyediakan perindustrian energi angin lepas pantai.

Industri raksasa seperti Vestas dan Siemens Gamesa mengirimkan turbin angin dari sini, dan produsen listrik pertama kali memasok sekitar 25 ladang turbin angin lepas pantai dengan suku cadang seperti gearbox, generator, dan hub. Per bagiannya masing-masing memiliki berat hingga beberapa ton.

Dermaganya cukup besar, bahkan untuk bilah rotor turbin raksasa, yang ditumpuk dan menunggu untuk diberangkatkan. Tanpa infrastruktur seperti ini, impian Eropa tersebut tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Di sisi lain, pelabuhan Jerman tengah lesu. Di Bremerhaven, perselisihan yang berlangsung selama bertahun-tahun mengenai pengembangan pelabuhan tenaga angin lepas pantai berakhir di pengadilan. Sementara itu, beberapa perusahaan di sektor tersebut, seperti Prokon, Senvion dan Windreich, justru gulung tikar. Sedangkan di pelabuhan Jerman lainnya, tidak banyak hal terjadi.

Hanya pelabuhan kecil Eemshaven di Belanda yang lebih terlibat. Pondasi untuk turbin angin lepas pantai raksasa di sana juga sudah dikirim dari Denmark. ‘Kita semua harus bersatu’

Selama beberapa dekade, pembangkit energi di Laut Utara didominasi oleh pembangunan anjungan minyak dan gas. Kini, energi angin yang mengambil alih. Satu dari sembilan pekerjaan di Esbjerg sudah sangat bergantung pada tenaga angin, totalnya mencapai sekitar 5.000.

“Kita semua harus bekerja sama untuk energi angin,” kata Wali Kota Rasmussen, anggota Partai Liberal Denmark. “Sebagai kota pemodelan, kami memastikan industri mendapatkan lokasi yang dibutuhkan.”

Sebagai contoh, Rasmussen menjelaskan bahwa pemerintah kota baru-baru ini memutuskan untuk memperluas pelabuhan menjadi 500.000 meter persegi, dengan total 4,5 juta meter persegi. Kelompok lingkungan juga ikut terlibat dalam perencanaan: “Tidak ada perbedaan pendapat tentang masalah ini,” tambah Rasmussen.

Perencanaan hidrogen gigawatt

Perencanaan lokasi yang akan menghasilkan hidrogen hijau berjalan dengan baik. Bagian untuk meningkatkan volume energi angin yang tiba di Esbjerg melalui kabel bawah laut, akan digunakan untuk elektrolisis hidrogen.

Sebagai contoh, pengembang proyek Swiss, H2Energy, berencana untuk membangun sebuah elektroliser 1 GW di pinggiran pelabuhan pada tahun 2024, yang akan membagi air menjadi elemen-elemen komponennya, hidrogen, dan oksigen. Elektroliser ini akan menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Dan masih ada lagi. Perusahaan investasi Denmark, CIP, tengah berencana untuk membangun pabrik 1 GW lainnya tak jauh dari sana. Ketika beroperasi, pabrik ini akan menggunakan hidrogen yang dihasilkan oleh energi angin untuk mensintesis 600.000 ton pupuk “hijau” per tahun.

Pompa panas sumber laut terbesar di dunia

Sementara itu, Christian Udby, CEO perusahaan utilitas lokal DIN Forsyning, sudah memikirkan langkah selanjutnya dalam rantai energi terbarukan. “Di masa depan, kami ingin menggunakan limbah panas dari elektroliser untuk pemanasan distrik,” katanya.

Menurut Udby, perusahaannya perlu mengambil tindakan, karena pembangkit listrik tenaga batu bara di pelabuhan, yang hingga saat ini telah memasok setengah dari pemanas di seluruh kota, akan dimatikan pada 1 April 2023.

Alternatif lainnya juga tengah dicanangkan. Yang utama, selain biomassa, adalah pompa panas sumber laut 50 megawatt (MW), yang saat ini sedang dibangun di pelabuhan. Pompa panas terbesar di dunia tersebut akan mengambil air dari dam pelabuhan, mengekstrak panas, lalu membuangnya kembali ke Laut Utara, hingga lebih jauh.

Teknologi tersebut dipasok oleh perusahaan Jerman, MAN dan Volkswagen. Teknologi ini akan menjadi inovasi yang diluncurkan pertama kali secara komersial di Denmark dan akan memakan waktu pengerjaan kurang lebih lima tahun, dari ide awal hingga beroperasi.

Hamburg juga memiliki rencana ambisius untuk mengganti pembangkit listrik tenaga batu bara, yakni pompa panas yang bersumber dari sungai, yang telah dibahas oleh Jerman jauh lebih lama. Namun, itu akan memakan waktu hingga beberapa tahun lagi sebelum proyek tersebut benar-benar terlaksana

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.