Cara Kerja Kode Nuklir yang Diduga Disembunyikan Donald Trump

Biro Investigasi Amerika Serikat (FBI) menggeledah rumah mantan presiden Donald Trump di Mar-a-Lago, Florida. Tujuannya, mencari sebuah dokumen yang diduga terkait senjata nuklir. Trump disebut-sebut secara tidak patut mengambil kode nuklir itu.
Melansir Live Science yang mengutip dari The Washington Post, sebuah sumber anonim tidak merinci dokumen nuklir yang sedang dicari FBI di rumah Trump. Namun dokumen itu diduga terkait program nuklir AS atau negara lain yang bisa berbahaya bagi keamanan internasional.

Contohnya, negara lain mungkin menganggap pengungkapan rahasia nuklir mereka adalah sebuah ancaman. Dalam bingkai itu, kode nuklir mungkin menjadi salah satu penemuan yang tidak begitu mencemaskan.

Meskipun Trump punya kode tersebut, ia tidak akan bisa menggunakannya sekarang. Sebab, kode nuklir itu terus berganti.

Lantas, apa sesungguhnya yang dimaksud kode nuklir? Di mana ia berlokasi dan bagaimana proses peluncuran serangan nuklir?

Mengutip Brookings Institution, ada dua set kode yang dibutuhkan untuk meluncurkan nuklir. Satu kode digunakan oleh kru untuk membuka dan menembakkan senjata nuklir.

Satu kode lainnya digunakan oleh presiden AS untuk memberi wewenang menggunakan senjata nuklir. Akan tetapi, presiden AS tidak punya akses kepada set kode yang pertama, yang dijaga di markas militer di Pentagon.

Kode tersebut juga disebut dengan Kode Emas, yang dipegang oleh Kepala Komandan Pentagon. Kode-kode itu mengidentifikasi presiden dan mengonfirmasi otoritas presiden untuk memerintahkan serangan nuklir.

Kode itu dicetak di benda seperti kartu kredit yang disebut dengan Biscuit. Menurut Bloomberg, jika presiden memutuskan serangan nuklir, pejabat militer senior akan membaca ‘kode tantangan’ yang mungkin berupa beberapa huruf dari alfabet militer.

Presiden lalu melihat Biscuit, menemukan kode yang dimulai dengan huruf-huruf itu kemudian membaca kode sisanya.

Biscuit sendiri merupakan bagian dari perangkat berupa koper yang disebut Football atau Nuclear Football. Namun, secara resmi ia disebut ‘kemasan darurat’ untuk presiden.

‘Kemasan’ itu berisi Black Book, yakni serangkaian pilihan untuk presiden apakah ia akan menghancurkan semuanya, satu, atau dua kota saja. Ada pula kode-kode darurat lainnya dalam perangkat tersebut.

Mengutip dari Smithsonian Magazine, gambar Football pertama kali tertangkap kamera pada Mei 1963, mengikuti presiden AS. Namun terkadang, Football terpisah juga dari Kepala Komandan.

Misalnya, dalam kasus penembakan Presiden Ronald Reagan. Dia kemudian dibawa ke rumah sakit lalu kemudian dipisahkan dari Football. Biscuit milik Reagan pun mengalami hal yang sama, meskipun ia berada di kantong pakaian sang presiden yang dibuka saat Reagan hendak dioperasi secara darurat.

Pada 2010, Hugh Shelton selaku Kepala Joint Chiefs of Staff pada masa administrasi presiden Bill Clinton mengklaim sang presiden kehilangan Biscuit-nya selama beberapa bulan pada 2000.

Hal tersebut tak terlaporkan sampai saat waktu untuk mengganti kode di dalamnya.

Pada keadaan darurat, kewenangan memakai Football berpindah ke Wakil Presiden AS, jika sang Presiden tidak memegang Biscuitnya. Rantai komando itu didesain mengantisipasi andai Kepala Komando terbunuh atau lumpuh.

Biasanya pun, Football dioper dari satu presiden AS ke presiden berikutnya saat waktu pelantikan. Namun hal berbeda terjadi ketika pelantikan Joe Biden lantaran Trump yang tidak hadir.

Militer AS lalu menyiapkan rencana alternatif yakni membuat ‘kemasan cadangan’ yang ikut ke Florida bersama Trump, dan di saat yang sama membuat kemasan lain untuk diserahkan ke Biden saat pelantikan.

Kabarnya, kode milik Trump sudah kedaluwarsa di malam saat pelantikan Biden.

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.